Korporatisasi Di Luar Bursa

Korporatisasi adalah proses transformasi dari bisnis personal, keluarga atau milik negara menjadi korporasi dengan manajemen dan tata kelola modern. Proses manajemen yang merupakan hasil riset SNF Consulting ini diawali dengan upaya sebuah perusahaan untuk menemukan revenue and profit driver (RPD). Yaitu upaya menemukan sebuah aset yang jika dimiliki oleh sebuah perusahaan maka akan langsung meningkatkan pendapatan (revenue) dan laba (profitnya). RPD adalah bagian utama dari model bisnis sebuah perusahaan.

Contoh RPD adalah berupa gerai minimarket bagi perusahaan ritel seperti Alfamart atau Indomaret. Atau jumlah gerai resto bagi perusahaan makanan siap saji seperti CFC, KFC atau McDonalds.  Atau berupa pabrik bagi perusahaan roti seperti Sari Roti. Untuk meningkatkan omzet, Alfamart atau Indomaret tidak mungkin melakukannya tanpa menambah gerai. Peningkatan omzet 20% misalnya selalu berarti peningkatan jumlah gerai dengan persentase sama. Hal yang sama terjadi pada CFC, KFC atau McDonalds. Demikian juga Sari Roti. Karena produknya hanya berusia beberapa hari, sebuah pabrik roti hanya bisa menjangkau wilayah pasar dengan radius tertentu. Peningkatan jumlah omzet tidak bisa dilakukan tanpa menambah pabrik untuk wilayah-wilayah pasar baru.

Menemukan RPD adalah langkah pertama korporatisasi. Korporatisasi adalah sebuah proses yang bersifat siklus berkelanjutan. Setelah langkah pertama masih ada langkah kedua sampai langkah kelima. Selanjutnya kembali lagi menuju langkah kedua dan seterusnya. Lengkapnya silahkan baca di tulisan “Korporatisasi langkah demi langkah”. Proses korporatisasi baru tuntas setelah perusahaan menguasai pasar lebih dari 100 negara. Dengan demikian omzet rata-rata dari suatu negara kurang dari 1%. Dengan demikian perusahaan akan aman dari risiko gejolak politik pada sebuah negara karena omzetnya di sebuah negara tidak lebih dari 1%. Di dunia ini ada sekitar 250 negara. Visinya harus kelas dunia.

Langkah keempat dalam korporatisasi adalah penerbitan saham baru. Ini adalah langkah paling menentukan dari proses korporatisasi. Perusahaan harus menarik calon investor dengan menerbitkan saham baru. Konotasinya, langkah ini selalu harus dilakukan di lantai bursa.  harus IPO. Di Indonesia harus dilakukan di Bursa Efek Indonesia. Otoritas bursa pun bekerja keras mempromosikan agar perusahaan-perusahan masuk lantai bursa dengan melakukan initial public offering. Bahkan perusahaan-perusahaan kecil (UKM) pun didorong untuk IPO. Ini adalah sebuah kesalahan stratejik.

Ada fenomena menarik untuk proses IPO ini. Satu sisi, BEI bekerja keras memasukkan perusahaan termasuk perusahaan kecil-kecil bahkan UKM  untuk melakukan IPO. Sisi lain, ternyata ada perusahaan-perusahaan baru yang tampil menonjol di dunia bisnis dalam skala yang masif dengan pertumbuhan pesat. Perusahaan-perusahaan ini juga mendapatkan investor secara terus-menerus sesuai dengan kebutuhan dana ekspansinya. Melakukan korporatisasi berkelanjutan. Tidak seperti kebanyakan perusahaan terbuka di BEI yang korporatisasinya justru macet. IPO menjadi langkah pertama dan terakhir korporatisasi. IPO menjadi tujuan akhir.  Contoh perusahaan yang terus menerus melakukan korporatisasi di luar lantai bursa  adalah Bukalapak, Gojek, Traveloka, Ruang Guru. Mereka melakukan langkah keempat dalam proses korporatisasi yaitu menerbitkan saham di luar lantai bursa.Nadiem Makarim dan Gojek

Gojek besutan Nadiem Makarim tetap melakukan korporatisasi di luar lantai bursa sampai menjadi unicorn bahkan decacorn

Pertanyaannya, mengapa harus di luar lantai bursa? Paling tidak ada tiga alasan. Pertama adalah alasan historis. Kita mesti belajar dari pengalaman perusahaan-perusahaan yang kini menguasai pasar dunia. Baik perusahaan-perusahaan baru seperti Google, Amazon, Alibaba dan sebagainya. Maupun perusahaan-perusahaan yang telah berusia lintas abad seperti Toyota, General Electric, Unilever, JP Morgan Chase, Ford dan sebagainya. Pengalaman mereka sama, langkah keempat korporatisasi yaitu menerbitkan saham baru pada awalnya dilakukan berkali-kali di luar lantai bursa.

Alasan kedua, masuk lantai bursa dalam ukuran terlalu kecil akan mengakibatkan perusahaan terancam IPO trap dan berakibat proses korporatisasinya berhenti. Macet. Contohnya adalah seperti pengalaman perusahaan hasil laut Dua Putra Utama Makmur, perusahaan properti Agung Podomoro, perusahaan kontraktor Cahayasakti Investindo Sukses, perusahaan pelayaran Samudera Indonesia, dan masih banyak lagi. Yang mereka lakukan adalah ibarat berlayar di samudera luas berombak setinggi 5 meter dengan perahu kecil yang panjangnya hanya 3 meter. Terombang ambing ombak. Bahkan tergulung ombak.

Alasan ketiga masih terkait dengan alasan kedua. Bahwa harga saham yang diterbitkan sebuah perusahaan di luar lantai bursa akan sepenuhnya berada dalam kontrol perusahaan penerbitnya. Segala sesuatunya masih dalam kontrol manajemen. Berbeda sekali dengan di lantai bursa yang harga saham merupakan hasil hukum supply demand. Hasil dari hukum pasar. Di luar kontrol manajemen.

Dengan tetap memegang kontrol harga, perusahaan dapat menjaga agar ROI dan capital gain investor dari waktu ke waktu terus tumbuh sesuai rencana dan prospektus perusahaan. Harga saham dapat ditentukan sedemikian rupa sehingga ROI investor pertama naik dengan masuknya investor kedua. ROI investor pertama dan kedua naik dengan masuknya investor ketiga. ROI investor pertama, kedua dan ketiga naik dengan masuknya investor keempat. Dan seterusnya. Ini yang nyaris mustahil dilakukan perusahaan melalui lantai bursa jika ukurannya masih kecil. Kapitalisasi pasarnya masih dibawah Rp 10 triliun.

Bagaimana dengan melakukan korporatisasi melalui platform urun modal seperti Santara atau sejenisnya? Fungsi mereka sama dengan Bursa Efek Jakarta. Dengan demikian, karakternya juga kurang lebih akan sama dengan lantai bursa. Maka, efek seperti IPO Trap juga akan terjadi pada perusahaan yang menerbitkan saham melalui platform seperti itu.